- Derajat
- Kitab
- Shalat (Para Musafir)كتاب صلاة المسافرين وقصرها
- Bab
- Bab 52: Islamnya Amr bin Abasahباب إِسْلاَمِ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ
Teks Arab
Terjemah
Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ja'far al-Ma'qiri, telah menceritakan kepada kami an-Nadhr bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami 'Ikrimah bin 'Ammar, telah menceritakan kepada kami Syaddad bin Abdullah Abu 'Ammar dan Yahya bin Abu Katsir dari Abu Umamah — 'Ikrimah berkata: Syaddad pernah bertemu Abu Umamah dan Watsilah, dan menyertai Anas ke Syam, serta ia memujinya sebagai orang yang mulia dan baik — dari Abu Umamah, ia berkata: Amr bin 'Abasah as-Sulami berkata: Pada masa Jahiliyah aku sudah menduga bahwa manusia berada dalam kesesatan dan tidak berpegang pada apa pun, sedangkan mereka menyembah berhala. Lalu aku mendengar tentang seorang lelaki di Mekah yang menyampaikan berita-berita. Maka aku menaiki tungganganku dan datang kepadanya. Ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan bersembunyi karena kaumnya berani menyakitinya. Maka aku berupaya dengan hati-hati hingga dapat masuk menemuinya di Mekah. Aku bertanya kepadanya: Siapakah engkau? Beliau menjawab: "Aku seorang nabi." Aku bertanya: Apa itu nabi? Beliau menjawab: "Allah mengutusku." Aku bertanya: Dengan apa Dia mengutusmu? Beliau menjawab: "Dia mengutusku dengan menyambung hubungan kekerabatan, menghancurkan berhala-berhala, dan agar Allah ditauhidkan, tidak dipersekutukan dengan sesuatu pun." Aku bertanya kepadanya: Siapa yang bersamamu dalam hal ini? Beliau menjawab: "Seorang yang bebas dan seorang hamba." Saat itu yang bersama beliau di antara orang-orang yang beriman kepadanya adalah Abu Bakar dan Bilal. Aku berkata: Sungguh aku akan mengikutimu. Beliau bersabda: "Engkau tidak mampu melakukan itu pada hari ini. Tidakkah engkau melihat keadaanku dan keadaan orang-orang? Tetapi kembalilah kepada keluargamu; apabila engkau mendengar aku telah menang, datanglah kepadaku." Maka aku pergi kepada keluargaku. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah sementara aku masih bersama keluargaku. Aku pun mencari-cari berita dan bertanya kepada orang-orang ketika beliau telah tiba di Madinah, sampai datang kepadaku sekelompok orang Yatsrib, penduduk Madinah. Aku bertanya: Apa yang dilakukan lelaki yang telah tiba di Madinah itu? Mereka menjawab: Orang-orang bersegera kepadanya; kaumnya hendak membunuhnya tetapi mereka tidak mampu. Maka aku datang ke Madinah dan masuk menemuinya. Aku berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenaliku? Beliau menjawab: "Ya, engkau yang menemuiku di Mekah." Aku berkata: Benar. Lalu aku berkata: Wahai Nabi Allah, kabarkan kepadaku tentang apa yang Allah ajarkan kepadamu sedangkan aku tidak mengetahuinya; kabarkan kepadaku tentang shalat. Beliau bersabda: "Shalatlah shalat Subuh, kemudian tahanlah dari shalat sampai matahari terbit dan meninggi, karena sesungguhnya ia terbit di antara dua tanduk setan, dan pada saat itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya. Kemudian shalatlah, karena shalat pada saat itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat), sampai bayangan tegak lurus dengan tombak. Kemudian tahanlah dari shalat, karena pada saat itu Jahanam dinyalakan. Apabila bayangan telah bergeser, shalatlah, karena shalat disaksikan dan dihadiri, sampai engkau shalat Ashar. Kemudian tahanlah dari shalat sampai matahari terbenam, karena sesungguhnya ia terbenam di antara dua tanduk setan, dan pada saat itu orang-orang kafir bersujud kepadanya." Aku berkata: Wahai Nabi Allah, tentang wudhu, ceritakanlah kepadaku. Beliau bersabda: "Tidaklah seorang dari kalian mendekatkan air wudhunya lalu berkumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya, melainkan berjatuhan dosa-dosa wajahnya, mulutnya, dan lubang hidungnya. Kemudian apabila ia membasuh wajahnya sebagaimana Allah perintahkan, berjatuhan dosa-dosa wajahnya dari ujung-ujung jenggotnya bersama air. Kemudian ia membasuh kedua tangannya sampai kedua siku, berjatuhan dosa-dosa kedua tangannya dari ujung-ujung jarinya bersama air. Kemudian ia mengusap kepalanya, berjatuhan dosa-dosa kepalanya dari ujung-ujung rambutnya bersama air. Kemudian ia membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki, berjatuhan dosa-dosa kedua kakinya dari ujung-ujung jarinya bersama air. Lalu jika ia berdiri dan shalat, memuji Allah, menyanjung-Nya, dan mengagungkan-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya, serta mengosongkan hatinya hanya untuk Allah, maka ia berpaling dari dosanya dalam keadaan seperti pada hari ia dilahirkan ibunya." Lalu Amr bin 'Abasah menceritakan hadis ini kepada Abu Umamah, sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Abu Umamah berkata kepadanya: Wahai Amr bin 'Abasah, perhatikanlah apa yang engkau katakan — dalam satu kedudukan saja orang ini diberi (pahala sebesar) itu? Amr menjawab: Wahai Abu Umamah, usiaku telah lanjut, tulangku telah rapuh, dan ajalku telah dekat; tidak ada kepentingan bagiku untuk berdusta atas nama Allah dan atas nama Rasulullah. Seandainya aku tidak mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali sekali, atau dua kali, atau tiga kali — sampai ia menghitung tujuh kali — niscaya aku tidak akan pernah menceritakannya. Akan tetapi aku mendengarnya lebih banyak daripada itu.