Musnad Ahmad · 24849

No. 26042 pada edisi ar-Risalah

Derajat
Memuat derajat…

Teks Arab

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ دَاوُدَ عَنِ الشَّعْبِيِّ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ قَدْ فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ بِمَكَّةَ فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ زَادَ مَعَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ إِلَّا الْمَغْرِبَ فَإِنَّهَا وِتْرُ النَّهَارِ وَصَلَاةَ الْفَجْرِ لِطُولِ قِرَاءَتِهِمَا قَالَ وَكَانَ إِذَا سَافَرَ صَلَّى الصَّلَاةَ الْأُولَى.

Terjemah

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Adi, dari Dawud, dari asy-Sya'bi, bahwa Aisyah berkata: Shalat telah diwajibkan dua rakaat dua rakaat di Makkah. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau menambahkan pada setiap dua rakaat itu dua rakaat lagi, kecuali Magrib — karena sesungguhnya ia adalah witirnya siang — dan shalat Fajar, karena panjangnya bacaan pada keduanya. Ia berkata: Dan apabila beliau bersafar, beliau mengerjakan shalat yang pertama (dua rakaat seperti semula).